Kekuatan Sastra

Sahabat, pernahkah anda membaca sebuah novel kemudian merasa hanyut oleh novel tersebut? Misal, membaca Laskar Pelangi kemudian ingin memperbaiki pendidikan di Indonesia? Atau membaca Ayat-ayat Cinta kemudian tergerak untuk menempa diri seperti Fahri? Nah, kekuatan sastra lah yang membuat pembaca larut dalam cerita dan tergerak untuk melakukan sesuatu.

Menurut penelitian Koopman dan Hakemulder (2015), membaca novel sastra lebih menghanyutkan daripada membaca artikel atau berita. Orang sama akan lebih tergerak saat membaca Laskar Pelangi daripada membaca berita tentang pendidikan di daerah tertinggal. Orang yang sama akan lebih termotivasi untuk sukses saat membaca Ayat-ayat Cinta daripada membaca artikel kiat sukses.

Ada beberapa hal yang menjadi kekuatan sastra sehingga dapat menghanyutkan pembaca. Pertama, saat membaca sastra kita tahu bahwa ini adalah khayalan semata. Oleh karena itu, kita tidak merasa terbebani ketika membaca penderitaan sang tokoh dan dapat menikmati kisahnya dengan sempurna. Sebaliknya, ketika membaca berita, kita sadar bahwa ini adalah kejadian nyata. Kesadaran ini membuat pembaca menjaga jarak dari berita tersebut karena, mungkin, merasa tidak mampu membantu korban. Jarak antara pembaca dan berita ini membuat simpati pembaca lebih sulit untuk muncul.

Kedua, karya sastra mengajak pembaca untuk terlibat dalam cerita. Pembaca seolah ikut menjalani cerita, menemani tokoh dalam perjalanan hidupnya dan memikirkan apa yang mungkin terjadi pada tokoh tersebut. Ini membuat otak lebih aktif ketika membaca novel sastra. Sebaliknya, artikel dan berita menunjukkan hal yang sudah terjadi dan tidak dapat berubah lagi. Ini membuat pembaca tidak terlibat dalam isi berita. Otak pun tidak banyak menggunakan imajinasinya ketika mencerna berita.

Ketiga, pembaca cenderung melakukan (over) generalisasi dari pengalaman seorang tokoh dalam novel sastra dibandingkan dengan membaca artikel atau berita yang menjelaskan pengalaman beberapa tokoh sekaligus. Dengan membaca kisah satu orang, pembaca akan lebih mudah menemukan siapa “korban” dalam kisah tersebut. Pembaca akan memberikan simpatinya secara utuh kepada sang “korban”. Jika ada lebih dari satu kisah dalam artikel maka pembaca harus membagi simpatinya sehingga lebih lemah.

Tiga hal di atas menjadi kekuatan sastra yang unik dalam mempengaruhi pembaca. Untuk itu, novel-novel sastra memiliki peran yang sangat kuat dalam mendidik dan mempengaruhi masyarakat. Di masa perjuangan merebut kemerdekaan, misalnya, novel-novel sastra mengajarkan makna patriotisme dan bela negara. Nah, sahabat, sudahkah anda membaca novel sastra hari ini?

 

Koopman, E., Hakemulder, K. (2015), “Effects of Literature on Empathy and Self- Reflection: A Theoretical-Empirical Framework”, De Gruyter, 9(1): pp. 79–111

Share

One thought on “Kekuatan Sastra

  • June 1, 2016 at 1:27 am
    Permalink

    Tapi membaca kisah yang ditulis oleh sahabat lamanya itu, Drogstoppel berubah pikiran. Tulisan-tulisan tentang Lebak membuka matanya tentang sesuatu yang harus dikabarkan kepada dunia. Meskipun kemudian dia menyadari bahwa tulisan itu bisa jadi akan membuka kebusukan bangsanya sendiri di atas tanah jajahannya di Hindia Belanda.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *