DKI Jakarta Canangkan Provinsi Literasi

Maruti AHS/Vika Widiastuti*

DKI Jakarta melakukan deklarasi sebagai pusat literasi di Indonesia. Pada (27/1) lalu bertempat di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), DKI Jakarta mencanangkan diri sebagai provinsi literasi di Indonesia. Dengan ini, Jakarta menjadi provinsi yang semakin berupaya membudayakan membaca buku bagi pelajar. Sebelumnya, Yogyakarta juga menunjukkan kepedulian pada literasi dengan membangun perpustakaan megah untuk warga.

Menurut Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan (Dispendik) DKI Fathurin Zen, inti literasi, selain mengembangkan kemampuan baca tulis, juga sebagai salah satu penumbuhan budi pekerti. Fathurin mengungkapkan, tujuan utama adanya deklarasi literasi ini adalah untuk membangun komitmen bersama. Ia berharap, komitmen ini dapat memenuhi tantangan membaca 5 juta buku dan tantangan menulis 1 juta bacaan pada 2016.

Untuk rencana pasca deklarasi, Dispendik DKI akan membentuk komunitas literasi di sekolah dan mengadakan lomba menulis. Misalnya, menulis puisi, cerpen, dan resensi. Lalu bekerja sama dengan media cetak maupun elektronik untuk menerbitkan hasil karya. Tidak hanya siswa tetapi juga guru.

Deklarasi dibacakan oleh 20 kepala sekolah yang meliputi jenjang SMA/MA/SMK, SMP/MTS, SD/MI. Pembacaan deklarasi tersebut dipimpin oleh Kepala SMAN 78 Jakarta, Rita Hastuti. SMAN 78 Jakarta memang menjadi sekolah pelopor dalam program literasi DKI. Program tersebut berupa pembiasaan membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai. SMAN 78 memilih hari Selasa dan Kamis untuk pembiasaan membaca buku.

“Buku yang dibaca adalah buku non fiksi dan non pelajaran,” ujar wakil kepala bidang kesiswaan SMAN 78 Jakarta Agus Sudrajat.

Agus menjelaskan, dalam program literasi ini pihaknya menargetkan SMAN 78 membaca 1000 buku dalam satu semester. Karena, siswanya berjumlah 1.212 dan tiap siswa diharuskan menamatkan membaca minimal 1 buku selama satu semester. Selain membaca, para siswa juga diharuskan membuat resensi dari buku yang dibaca. Resensi tersebut nantinya dikumpulkan dalam dua tahap. Yakni, pada tengah semester dan akhir semester.

Nantinya, tiap tahun ajaran baru Dispendik DKI menargetkan akan menerbitkan buku karya siswa. Buku tersebut merupakan kumpulan karya siswa yang telah diseleksi. Dispendik DKI akan memfasilitasi dengan mempromosikan di media dan ditawarkan ke penerbit. Jenis bukunya, dapat berupa buku fiksi, nonfiksi, dan ilmiah.

Menurut Kepala Seksi Bidang Kurikulum SMA Dispendik DKI M. Husin, penerapan Jakarta sebagai provinsi┬áliterasi tidak hanya akan berhenti di sekolah saja. Tetapi ke depan akan dikembangkan ke masyarakat. “Kita tidak hanya akan berhenti di deklarasi saja, saya akan turun ke sekolah-sekolah untuk melakukan monitoring,” tuturnya.

 

*Artikel asli diterbitkan di harian Jawa Pos-Metropolitan edisi (26/1), (28/1), dan (6/2). Dimuat di SahabatMembaca.org dengan ijin penulis dan melalui beberapa pengubahan.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *