Bisa Membaca ternyata tidak Cukup!

Ganjar Widhiyoga
PhD Candidate, Durham University, UK

 

Indonesia sebenarnya memiliki angka buta huruf yang rendah. Sebagian besar penduduk Indonesia sudah bisa membaca. Berdasarkan data dari Direktorat Pembinaan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemdikbud, tinggal 3,76% penduduk Indonesia yang buta aksara. Ini berarti, tingkat melek huruf di Indonesia mencapai 96,24%, di atas rata-rata dunia yang 83%! Namun, kenapa tragedi nol buku masih terjadi di Indonesia?

Sahabat, pada titik inilah kita harus sadar bahwa bisa membaca ternyata tidak serta-merta membuat orang suka membaca! Bisa membaca adalah kemampuan atau ketrampilan akademis yang menjadi bagian dari proses pendidikan kita. Namun, cinta membaca adalah selera, hobi atau kebiasaan yang dibangun oleh keluarga dan dipengaruhi oleh budaya masyarakat. Kalau anda tidak menjadikan cinta membaca sebagai hobi dan kebiasaan maka meski bisa membaca, anda tidak akan tergerak untuk mengambil buku dan membacanya. Akibatnya kemampuan membaca pun minim digunakan dan tidak banyak pengetahuan baru yang didapat!

Menumbuhkan cinta membaca merupakan tantangan besar bagi masyarakat Indonesia jika kita bercermin pada berita tragedi nol buku anak Indonesia dan pengalaman terkait budaya membaca mahasiswa Indonesia. Meskipun bisa membaca, sebagian masyarakat Indonesia masih belum tertarik untuk membaca apalagi menjadikan membaca menjadi kegemaran. Akibatnya, masyarakat Indonesia tidak banyak mendapatkan informasi bermanfaat dan tertinggal dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Ini tentu kondisi yang harus kita perbaiki bersama.

Titik awal perubahan adalah dengan menempatkan keluarga sebagai motor utama gerakan cinta membaca. Ayah dan Bunda memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kecintaan ananda pada buku dan membaca. Anak-anak tidak perlu bisa membaca di usia dini namun mereka perlu mengenal buku dan suka berinteraksi dengan buku. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa anak-anak yang mengenal buku di usia balita lebih cepat membaca daripada anak-anak yang belajar mengenal huruf di usia balita!

Ayah dan Bunda pun perlu paham bahwa mendidik anak membaca bukanlah proses yang singkat dan bisa selesai dalam hitungan jam atau hari. Mendidik anak membaca bukan hanya mengajari anak kenal huruf dan bisa membaca “ini ibu Budi”. Mendidik anak membaca adalah mengenalkan mereka pada buku dan luasnya informasi yang dapat mereka peroleh dari buku. Untuk itu orang tua tidak perlu panik, merasa anaknya terlambat membaca, kurang pintar dan sebagainya. Cukup dampingi anak dengan penuh kasih dan berikan contoh, bahwa Ayah dan Bunda pun suka membaca.

Jika orientasi keluarga adalah menumbuhkan cinta baca, maka Ayah dan Bunda pun tidak akan cemas, tertekan atau takut anaknya terlambat membaca. Justru sebaliknya, membersamai anak belajar membaca akan menjadi proses yang menyenangkan bagi semua. Dari keluarga pecinta baca inilah kita akan dapat membangun masyarakat Indonesia yang gemar membaca dan mampu menyerap informasi berkualitas.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *