Mendidik Anak Cerdas atau Baik Hati?

Menjadi anak cerdas atau baik hati sebenarnya tidak perlu menjadi pilihan. Seharusnya, orang tua dan lingkungan mendidik anak menjadi cerdas dan baik hati. Namun pada kenyataannya, orang tua dan lingkungan terlalu menekankan pada kecerdasan dan kurang menghargai perbuatan baik yang anak lakukan. Kondisi ini muncul di pendidikan anak dan remaja di Amerika Serikat, terlihat pada hasil survey yang dilakukan oleh Richard Weissbourd, dosen di Harvard University, Amerika Serikat.

Dr. Weissbourd melaksanakan survey di akhir tahun 2013-awal 2014. Survey ini diikuti oleh 10.000 siswa setara SMP dan SMU dari 33 sekolah. Dalam survey ini, Dr. Weissbourd menanyakan tiga hal yang paling penting menurut siswa dan orang tua mereka. Ternyata, 80% siswa menyatakan prestasi akademik sebagai hal yang paling utama bagi mereka. Para siswa juga menyatakan, prestasi akademik merupakan hal yang paling penting dan ditekankan oleh orang tua mereka. Sementara, melakukan perbuatan baik dan peduli pada sesama menduduki peringkat yang lebih rendah.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disadari atau tidak, orang tua di Amerika Serikat terlalu memberikan penekanan pada capaian akademik dan kurang memotivasi anak-anak untuk berbuat baik pada sesama. Dalam pengamatan Dr. Weissbourd, penekanan terhadap prestasi akademik ini muncul dalam interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak. Orang tua lebih sering menanyakan “bagaimana nilaimu hari ini?” daripada “berbuat baikkah hari ini?”. Orang tua juga gampang memberikan hadiah jika anak mendapatkan juara namun tidak memberi hadiah jika mereka membantu orang lain. Perilaku keseharian inilah yang membentuk anak-anak di Amerika Serikat menjadi mengutamakan kecerdasan dan prestasi akademik di atas kebaikan hati atau menolong orang lain.

Akibat dari pola pandang ini, penelitian lain mengungkapkan bahwa separuh siswa SMU di Amerika Serikat mengaku berbuat curang dan menyontek saat ujian (Josephson Institute, 2012). Tidak hanya berhenti pada kecurangan akademik, terabaikannya pembentukan kepribadian baik ini juga berpengaruh terhadap perilaku sosial para siswa. Ini terlihat dari meluasnya praktek kekerasan di sekolah. Hampir sepertiga siswa SMP dan SMU di Amerika Serikat menjadi korban bullying (NCES, 2013). Para siswi menghadapi tantangan yang lebih berat. Lebih dari separuh siswi kelas 7-12 pernah menjadi korban pelecehan seksual di sekolah mereka (Hill dan Kearl, 2011).

Bagaimana dengan orang tua di Indonesia? Apakah Sahabat telah menjaga keseimbangan antara mendidik prestasi akademik anak dan mendidik karakternya? Ataukah tanpa sadar, Sahabat terlalu menekankan pada prestasi akademik dan lupa mengajak ananda untuk berbuat baik pada sesama? Kembali, anak tidak perlu memilih antara menjadi anak cerdas atau baik hati. Orang tuanyalah yang perlu memastikan anak tumbuh cerdas dan baik hati.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *