Pippi Si Kaus Kaki Panjang dari Swedia

Berbicara tentang pendidikan anak usia dini di Swedia, tentu harus membahas pula tentang Pippi Langstrumpf, atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Pippi si Kaus Kaki Panjang. Pippi Langstrumpf adalah salah satu tokoh cerita anak karya Astrid Lindgren (1907-2002). Cerita ini sangat digemari di Swedia dan dianggap sebagai salah satu simbol budaya nasional Swedia.

Pippilotta Viktualia Rullgardina Krusmynta Efraimsdotter Långstrump, atau dikenal sebagai Pippi, adalah seorang anak gadis yang hidup sendirian di sebuah desa kecil di pelosok Swedia. Ia hidup bersama monyet peliharannya, yang ia beri nama Tuan Nilsson, dan kudanya. Alih-alih bersedih karena sebatang kara, Pippi adalah anak yang ceria, mandiri dan penuh rasa ingin tahu. Ia mengalami banyak kisah seru bersama dua sahabatnya, Tommy dan Annika.

Kisah Pippi ini muncul ketika putri Astrid, Karin, jatuh sakit. Karena bosan harus terus berbaring di kamar, Karin meminta ibundanya untuk bercerita. Astrid pun bertanya, cerita apa yang ingin didengar Karin. Saat itu, spontan Karin menjawab, “Ceritakan tentang Pippi si Kaus Kaki Panjang!” Astrid pun tersenyum dan mengarang cerita tentang seorang gadis berusia sembilan tahun bernama Pippi. Ibunda Pippi sudah meninggal, dan tinggal bersama malaikat menurut Pippi. Ayah Pippi entah di mana. Menurut Pippi, ayahnya seorang pelaut. Saat perahunya karam, ia terdampar di sebuah pulau dan menjadi raja para kanibal di pulau tersebut. Cerita-cerita menemani hari-hari Karin sebelum akhirnya Astrid tulis dan bukukan di tahun 1945.

Kisah tentang Pippi menjadi sahabat anak-anak Swedia dan turut membentuk pola kepribadian anak-anak. Pippi adalah sosok yang berbeda dengan anak kebanyakan saat itu yang kaku dan harus selalu menjaga sikap. Ia cerdas, berkemauan keras dan kadang tidak mau diatur. Pippi juga tidak suka berdandan. Ia selalu mengenakan pakaian santai dan sepasang kaus kaki panjang, yang menjadi julukannya. Di suatu cerita, Pippi melihat sebuah papan bertuliskan “APAKAH ANDA MENDERITA KARENA BINTIK WAJAH ANDA?” di jendela sebuah toko. Ia pun masuk ke toko tersebut. Ketika penjaga toko melihat wajah Pippi yang penuh bintik wajah dan menawarkan krim anti bintik wajah, Pippi dengan percaya diri berkata, “Aku tidak perlu! Aku suka bintik wajahku!”

Sikap Pippi ini banyak mempengaruhi anak-anak Swedia sehingga saat mereka dewasa kini, Swedia membangun sistem pendidikan yang lebih bebas dan menyenangkan bagi anak-anak. Bermain hingga baju kotor, memiliki ide kreatif di luar kebiasaan dan berani mandiri adalah nilai-nilai yang dibawa Pippi dan kini menjadi nilai-nilai yang diajarkan di pendidikan anak Swedia. Jika Pippi dapat mengubah Swedia, bagaimana dengan Indonesia?

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *