Hadapi Kanker dengan Senyum

Indira Abidin adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Ia selalu mencoba untuk berpikir positif dan mencari hikmah dari setiap kejadian. Prinsip ini pula yang Indira terapkan saat mendapat berita bahwa ia menderita kanker. Indira pun hadapi kanker dengan senyuman dan pikiran positif.

“Ketika dokter mendiagnosa saya mendapatkan kanker di tahun 2012, saya tersungkur dan bersujud pada Allah. Saya yakin, ada hikmah di balik ini,” tutur Indira. Ia pun bangkit, tidak ingin larut dalam kesedihan. Alih-alih menyebut dirinya sebagai penderita kanker, Indira memilih sebagai penerima anugerah kanker. Ia pun menyehatkan diri sambil mendirikan Yayasan Lavender untuk berjuang bersama para penerima anugerah kanker lainnya.

Sambil berjuang menghadapi kanker, Indira terus berkarya. Ia memimpin PT Fortune Pramana Rancang (Fortune PR), anak perusahaan Fortune Indonesia yang bergerak di bidang public relations dan branding consultant. Ia menjadi salah seorang penerima Anugerah Perempuan Indonesia 2012 atas kesuksesannya di bidang kehumasan. Selain itu, ia pun sangat peduli pada pendidikan anak. Kedua orangtuanya, Indra Abidin dan Miranti Abidin, memang telah menumbuhkan budaya cinta buku sejak Indira masih kecil. Maka, di sela kesibukannya bekerja dan menjaga kesehatan, Indira pun aktif dalam upaya pendidikan anak Indonesia. Pada November 2015 lalu, Yayasan Sanggar Fortune yang ia pimpin dan Komunitas Rumah Pencerah menerbitkan buku Menjadi Orang tua Cerdas.

Pendidikan anak adalah pondasi bagi masa depan Indonesia,” ucap Indira. “Di tahun 1996-1997, saat Indonesia terkena krisis moneter saya pernah terlibat dalam kampanye Aku Anak Sekolah untuk mencegah anak-anak putus sekolah. Setiap hari saya mendengarkan keluhan orang tua yang kesulitan menyekolahkan anak akibat himpitan ekonomi. Saya pikir, saatnya kita memberikan perhatian lebih besar pada pendidikan anak di Indonesia.”

Kecintaannya pada pendidikan dan membaca berwujud pada aktivitasnya sebagai blogger. Setelah mendapat anugerah kanker, Indira tergerak menuangkan kisahnya ke dalam blog. Ternyata, banyak pejuang kanker lain yang membaca tulisan itu. Akhirnya, Indira pun menerbitkan buku tentang pengalamannya dan rekan-rekan lain berjuang melawan kanker. Pada Desember 2015 lalu, bukunya Ikhtiar Sehat Bernalar pun terbit. Bagi Indira, kesempatan untuk mendapatkan pengobatan dan terapi adalah hak utama bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah kanker. Ini pula yang mendorong Indira mengirim surat pada Presiden Joko Widodo, memperjuangkan alat ECCT karya anak bangsa Indonesia, Dr. Warsito, untuk diterima sebagai salah satu bentuk terapi kanker di Indonesia. Petisi yang digalang Indira telah mendapatkan dukungan dari ribuan orang.

Sahabat, kehidupan manusia memang penuh liku. Sosok seperti Indira Abidin, yang terus tersenyum dan berprestasi sambil hadapi kanker di tubuhnya, merupakam inspirasi berharga bagi kita semua. Kepedulian Indira di bidang pendidikan dan kesehatan pun layak kita ikuti. Mari kita mulai dari langkah yang paling dekat: mendidik anak cinta baca. Anda pun dapat mendukung petisi yang digalang Indira dan pejuang kanker lainnya melalui tautan berikut!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *