Kisah Anak Pedalaman: Cita-cita Lilis

Nova Ayu Maulita
Penulis, pernah menjadi guru di pedalaman Kalimantan

Ada beberapa hal yang kunantikan pada pukul enam pagi. Pertama, listrik kembali mengaliri rumah kami setelah satu jam lamanya dilanda gulita. Kedua, matahari yang mulai naik menyinari pelepah-pelepah sawit, deruman suara truk yang mengangkut pekerja-pekerja sawit. Semua menjadi pengingat bahwa aku juga harus bersiap berangkat bekerja, mengawali hari baru dalam goresan kisah di pedalaman ini.

Lalu yang kutunggu berikutnya: Lilis. Setiap jam enam pagi, dia akan datang dari arah timur, di sela semburat matahari pagi. Setelah mengucap salam, ia masuk ke dalam rumah dan memulai pekerjaan awalnya, mengikat tirai jendela rumahku. Sudah sebulan ini Lilis bekerja di rumahku.

“Kamu yakin akan bekerja, Lis?”, kami bertanya di bulan lalu.

Saat itu, Lilis mengangguk. Posisinya sebagai anak tertua dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak mapan memaksanya mencari pekerjaan ini. Sebenarnya aku pun tidak tega, tapi berharap, dengan mempekerjakannya, kami justru membantu Lilis. Gaji Asisten Rumah Tangga di sini setara dengan gaji pokokku sebagai guru di tiga bulan pertama! Nominal itu sangat berarti untuk keluarga Lilis.

“Kamu tidak ingin sekolah, Lis?” tanyaku.

Ia tersenyum. “Ingin sekali, Bu. Tapi SMA hanya ada di kecamatan. Berarti harus kos dan membayar uang sekolah, Bu.”

Aku menangkap getir dalam senyumnya. Aku mafhum dengan keinginan Lilis, sekaligus kenyataan pahit yang menghalanginya untuk sekolah lanjut. Kampung ini letaknya jauh di dalam kebun sawit raksasa. SMA terdekat letaknya di kecamatan, satu jam lebih berkendaraan.

“Dulu saya angkatan pertama di SD tempat Bu Ayu mengajar, lho,” Lilis banyak bercerita padaku sambil membantu memasak. “Saya ingat sekali. Pak Ali pernah menasihati saya agar rajin belajar. Agar bisa jadi guru. Setelah itu saya jadi lebih rajin belajar dan selalu rangking satu hingga kelas enam.”Ada binar bangga di mata Lilis.

Aku ikut senang, tapi juga sedih. Anak sepintar Lilis seharusnya terus belajar untuk mencapai impiannya. Namun, kenyataan keluarga menjauhkannya dari impian. Tidak lama setelah percakapan kami, ayah dan ibunya diberhentikan dari perkebunan, sementara ada empat orang adik Lilis yang masih kecil-kecil. Kesulitan keuangan pun membelit keluarga ini, hal yang lazim kutemui pada kisah di pedalaman ini.

“Saya besok izin kerja ya, Bu. Saya mau membuat KTP ke kecamatan,” hari itu, Lilis berkata sopan. “Kalau saya punya KTP, saya akan coba mendaftar kerja di lahan.”

Aku tercekat. Kalau sudah kerja di lahan, sepertinya tipis harapan Lilis akan kembali sekolah. Selamanya akan bekerja sebagai karyawan sawit tulen. “Tidak jadi sekolah SMA, Lis?” Tanyaku terbata.

Lilis kembali tersenyum. “Kalau bekerja di lahan, gajinya bisa dua juta lebih, Bu.” Hanya itu jawabnya. Getir itu semakin pekat kurasakan. Kupaham, bebannya begitu berat saat ini.

Bulan berikutnya Lilis sudah tidak bekerja di rumahku. Dengan modal KTP yang menaikkan usianya, dia kini diterima kerja di lahan. Sejak saat itu aku jarang bertemu dengan Lilis. Hingga sehari sebelum kepulanganku ke Jawa, aku mengunjungi rumahnya. Kudapati Lilis telah bersiap menjadi seorang pengantin di usianya yang masih belia.

Hari-hariku yang penuh kisah di pedalaman telah lama berlalu. Namun aku terus mengenang semangat Lilis dan cita-citanya melanjutkan sekolah dan menjadi guru. Setiap bertemu gadis-gadis remaja yang bercerita tentang cita-cita mereka, ingatanku pun kembali pada Lilis dan cita-citanya. Cita-cita yang tidak teraih akibat beban kehidupan yang menggelantungi pundaknya.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *