Membuka Jendela Membaca di SLB

Safrina Rovasita
Mahasiswa Pascasarjana UIN Yogyakarta, Guru SLB

 

Saya seorang penyandang Cerebral Palsy, dengan gangguan motorik berada di pusat motorik yang ada di otak. Terlepas dari kondisi saya ini, sejak kecil Ibu selalu menekankan pentingnya kemampuan membaca. “Dengan membaca, kamu tidak akan kesepian,’’ kata ibu saya.

Wejangan dari Ibu hingga kini saya rasakan manfaatnya. Dunia menjadi luas dengan jendela membaca. Saat ini, saya baru mengambil kuliah pascasarjana di Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan ketika sekolah di SLB dulu. Wah, sejak kuliah ini hampir tidak ada waktu membaca novel atau cerpen, dua bacaan kegemaran saya. Sepulang mengajar di SLB, saya langsung mengerjakan tugas kuliah. Terlebih karena saya harus mengerjakan tugas-tugas itu dengan tenaga dan waktu yang ektra, sesuai kondisi saya. Tapi, saya suka.

Kemampuan dan kegemaran membaca ini ingin saya tularkan pada murid-murid saya di SLB. Kondisi murid-murid membuat kemampuan baca mereka tidak berkembang sesuai usianya. Meski sudah memasuki usia remaja, kemampuan membaca murid saya masih pada tahapan pra membaca.

Biasanya, kami latihan membaca dengan buku cerita anak-anak pra membaca. Ini membuat murid-murid saya tidak bersemangat karena secara psikologi dia sudah memasuki remaja akhir. Sebenarnya, tingkat kecerdasannya normal hanya saja terlambat dalam mengenyam pendidikan karena kondisi fisiknya. Jadinya mereka harus mengejar ketertinggalan.

Saya pun mencari-cari cara agar bisa mengajak murid-murid semangat membaca. Beruntung, saya sebagai guru SLB, tidak banyak mengalami intervensi atas kurikulum yang ada. Semua pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan murid. Saya pun berpikir untuk menyeimbangkan kemampuan membacanya dan pengalaman yang seharusnya ia dapat.

Aha! Saya akhirnya berinisiatif untuk membawakan cerpen dan novel saya dari rumah. Mencoba membacakannya satu per satu. Ternyata, murid-murid ketagihan saat saya bacakan kumpulan cerpen Emak Naik Haji karya Asma Nadia, kisah Pemanggul Goni dalam Kumpulan cerpen Kompas dan lain-lain. Semangat belajar membaca murid-murid pun meningkat. Mereka tidak lagi merasa disamakan dengan anak kecil!

Kebiasaan membaca cerpen dan novel ini berlanjut. Sekarang, membaca cerpen dan novel itu saya jadikan hadiah istimewa. Kalau murid-murid sudah selesai latihan membaca, baru saya bacakan satu cerpen.

Eh, ternyata bukan hanya murid-murid saya yang gembira dengan aktivitas ini. Murid-murid yang satu ruangan dengan kelompok belajar saya ikut menikmati sesi membaca! Padahal mereka tidak ikut berlatih membaca, curang ya? Tapi saya senang murid-murid jadi menikmati kegiatan membaca. Kalau begitu semester depan saya bikinkan jadwal saja untuk mereka! Ok, beginilah cara membuka jendela membaca dengan prinsip: guru senang murid riang!

Share

2 thoughts on “Membuka Jendela Membaca di SLB

  • December 20, 2015 at 9:55 am
    Permalink

    Hi mba,cerita tentang mengajar membaca bagi anak-anak ABK ini sangat menginspirasi . Jadi pada dasarnya pemikiran mereka juga beranjak remaja ya?

    Reply
    • December 20, 2015 at 10:23 am
      Permalink

      Info dari Kak Safrina, anak-anak tersebut secara kecerdasan sebenarnya normal, Kak. Hanya ada kendala fisik dan terlambat masuk sekolah.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *