Mahasiswa pun Perlu Membaca!

Andika Saputra
Peneliti di bidang arsitektur. Tulisan-tulisan penulis dapat dibaca di www.andikasaputra.net

 

Saya sering bertanya kepada mahasiswa yang saya temui, “Berapa buku teks yang sudah anda baca?” Dijawabnya, “Satu pun belum, Pak”. Jawaban yang tidak mengenal tingkat angkatan, dari mahasiswa baru hingga mahasiswa tingkat akhir satu suara memberikan jawaban yang sama. Benar-benar mencerminkan tragedi nol buku di kalangan pelajar Indonesia. Apa tidak ada kesadaran bahwa mahasiswa pun perlu membaca?

Setiap mahasiswa pastilah bisa membaca dalam artian tidak buta-aksara. Sayangnya, bisa membaca tidak berarti secara otomatis memiliki budaya membaca. Di sinilah permasalahan yang kita hadapi. Mahasiswa memang bisa membaca, tapi kenapa tidak tumbuh budaya membaca? Apa yang harus dilakukan agar budaya membaca tumbuh di kalangan mahasiswa?

Akhirnya saya pun mencari tahu. Ternyata, banyak dari mahasiswa yang belum pernah membaca buku teks bukan karena tidak suka dengan buku atau anti-membaca, tapi karena belum memahami tujuan dan manfaat membaca buku sehingga bagi mereka membaca buku teks adalah kegiatan yang tidak bermanfaat. Hal ini diperkuat dengan tidak tahu cara membaca buku teks yang efektif lagi menyenangkan. Banyak mahasiswa yang sudah pernah mencoba membaca buku teks, tapi tidak diselesaikannya karena merasa bosan, tidak menyenangkan, dan tidak memahami isi dari buku yang dibacanya. “Baru baca halaman pertama saja sudah pusing, Pak”.

Lalu siapa yang harus mengambil peran untuk menumbuhkan budaya membaca di kalangan mahasiswa? Tidak lain ialah para pendidik, sebab peran orangtua tidak lagi dapat maksimal mengingat banyak dari mahasiswa adalah perantauan. Jika begitu, para pendidik tidak saja berperan dalam transfer pengetahuan, tapi lebih luas lagi menumbuhkan budaya ilmiah yang diawali dengan menumbuhkan budaya membaca. Para pendidik harus memperkenalkan membaca sebagai kegiatan yang penting, bermanfaat dan menyenangkan selain mengajari mahasiswa cara membaca yang efektif. Sudahkah?

Tanpa budaya membaca, tak akan hadir budaya bertukar-pikiran dan budaya menulis. Dengan kata lain, tak akan hadir budaya ilmiah. Jika mahasiswa tak memiliki budaya membaca, maka takkan memiliki budaya ilmiah, layakkah disebut mahasiswa? Maka, mahasiswa pun perlu membaca agar terbuka cakrawalanya. Bukan hanya untuk kepentingan di bangku kuliah, namun juga untuk masa depannya.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *