Kisah Guru di Pedalaman: Binar Angan

Nova Ayu Maulita
Penulis, pernah menjadi guru di pedalaman Kalimantan

Menjadi guru di pedalaman memang tak semudah dalam binar angan. Namun ada harapan dan cita besar yang membuat banyak jiwa pendidik mau bertahan dalam pengabdian. Ini yang kupelajari selama tinggalku di Kalimantan.

Awalnya aku ternganga bahwa sebagian besar muridku di kelas lima SD tidak paham apa pentingnya tanda titik dan koma dalam kalimat bahasa Indonesia. Tidak pula tahu bahwa huruf di awal kalimat harus ditulis dengan huruf besar. Bahkan masih gamang membedakan mana subyek, mana predikat dan mana obyek.

Bilamana harus mengoreksi kalimat-kalimat yang mereka tulis, seringkali keningku berkerut. Selain belum memahami kaidah dasar Bahasa Indonesia, kosakata yang mereka miliki pun terlalu sedikit sehingga terasa janggal saat membuat kalimat tertulis.

Aku tercenung. Mencari sebab. Lalu mencoba mafhum.

Mereka jarang membaca. Maka bagaimana mungkin aku berharap mereka pandai menyusun kata? Buku pelajaran hanya dijamah saat di sekolah. Buku dipinjamkan setiap tiba jam pelajaran dan dikumpulkan kembali ke perpustakaan sekolah saat jam pelajaran berakhir. Tak sempat mereka akrab bercengkrama dengan buku.

Di rumah? Aku tak yakin mereka memiliki buku bacaan. Buku adalah barang mewah. Di pasar terdekat tidak ada toko buku. Untuk membeli buku harus menempuh perjalanan sekian jam ke kota terdekat. Membayangkan hadirnya toko buku, apalagi yang megah, berbau wangi, dengan jajaran buku-buku rapi berplastik seperti di kota-kota besar adalah fatamorgana. Orang tua mereka pun terlalu sibuk di kebun sehingga tidak pernah mengajak anaknya membaca.

Namun yang paling membuatku kelu adalah hilangnya angan-angan dari benak anak-anak. Ketika aku mencoba menumbuhkan semangat untuk belajar, Teguh, muridku, tertawa. Buat apa sekolah, Bu? Toh nanti kami akan jadi karyawan sawit?”

Jadi pemanen sawit, jadi supir, jadi mandor. Itulah pekerjaan yang jadi cita-cita kebanyakan anak di sini. Tak perlu repot-repot belajar. Tak perlu repot-repot ke sekolah dan mengerjakan tugas. Mereka merasa tidak perlu menengok isi buku, membuka jendela kehidupan di luar sana. Kehidupan nyata yang dilihatnya adalah kehidupan sawit yang terlanjur nyaman bagi mereka. Murid-murid seperti Safitri adalah istimewa di tengah lesunya semangat belajar.

Maka menjadi guru di pedalaman adalah pengabdian. Guru di pedalaman tidak hanya bertugas mengajar. Terkadang kami harus menjemput anak-anak yang bolos (karena bermain atau alasan lain) dan membawa mereka ke sekolah. Menjelang awal tahun ajaran, kami harus mendatangi perumahan dan mengajak para karyawan sawit untuk menyekolahkan anak-anaknya ke SD. Banyak karyawan yang masih enggan menyekolahkan anak mereka dengan alasan repot. Padahal uang pendaftaran ataupun SPP sudah digratiskan. Benar-benar gratis.

Maka aku belajar. Menjadi guru di pedalaman adalah pengabdian pada kehidupan. Yang utama, tugas kami adalah menghidupkan binar angan anak-anak, di tengah tandusnya ladang imajinasi mereka. Salam hormat dan takzim kepada para guru, yang setia dengan tugas mulia ini.

 

(Foto hanyalah ilustrasi.)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *