Kisah Anak Pedalaman: Binar Safitri

Nova Ayu Maulita
Penulis, pernah menjadi guru di pedalaman Kalimantan Tengah

 

Namanya Safitri. Saat itu, ia duduk di bangku kelas tiga SD. Ia asli anak pedalaman Kalimantan. Ia tinggal bersama neneknya di perumahan karyawan perusahaan kelapa sawit kami. Orang tuanya? Entahlah. Sepertinya itu salah satu sebab pendidikannya terhambat. Hingga menginjak kelas tiga SD ini, ia masih belum bisa membaca. Ini yang membuatku dekat dengannya. Aku mendapat tugas memberi jam tambahan untuk Safitri belajar membaca hingga lancar.

Safitri memang belum bisa membaca di usianya yang menginjak sembilan tahun. Tidak terlalu istimewa di sini, karena selain Safitri masih ada sejumlah anak pedalaman lain di sekolah kami yang belum bisa membaca di kelas tiga. Namun, berbeda dengan anak-anak yang lain yang lebih banyak bermain dan mengerjakan tugas sekadarnya, Safitri giat belajar dan bersemangat menuntut ilmu.

“Bu, saya sudah selesai!” Ucap Safitri bangga sambil membawa pekerjaan bahasa Inggrisnya ke hadapanku.

Aku tersenyum memeriksa pekerjaannya. Menulis bahasa Indonesia saja masih sulit, apalagi menuliskan bahasa asing yang ejaannya cukup sulit. Bisa dibayangkan, bukan? Tapi aku sangat menghargai semangatnya.

“Nanti kita les kan bu?” tanyanya lagi. Matanya berbinar. Manis sekali.

“Baik, nanti ke rumah Ibu ya? Jangan lupa tugas kemarin dikerjakan dulu. Nanti Ibu nilai.”

“Hore! Nanti aku ajak Dwi ya, Bu!”

Betapa bersemangatnya Safitri. Jam empat tepat ia telah muncul di depan rumahku. Aku selalu menghargai anak-anak yang punya semangat tinggi untuk datang belajar ke rumahku. Pasalnya, aku bersama suami tinggal di perumahan pegawai tetap perkebunan sawit, berbeda dengan kompleks karyawan tempat Safitri tinggal.

Kompleks rumah pegawai, yang meliputi kepala kebun sampai manajer, dan kompleks karyawan tidak hanya berbeda lokasi namun juga memiliki perbedaan fasilitas yang cukup menyolok. Konon tradisi seperti ini adalah peninggalan Belanda. Ada perbedaan kelas di masyarakat. Rumah pegawai jauh lebih besar dan sudah terisi lengkap dengan perabotnya. Ada pekarangan melingkari rumah, secara berkala ada petugas potong rumput yang merawat pekarangan. Tiap rumah pegawai memiliki tandon air pribadi yang dialirkan dua hari sekali. Listrik pun menyala 24 jam sehari. Di depan kompleks perumahan pun ada satpam yang menjaga 24 jam.

Kesenjangan ini menambah berat langkah murid-murid untuk datang ke rumahku. Kebanyakan mereka adalah anak pedalaman, keluarga anak buah suamiku yang seorang kepala kebun. Namun tidak bagi Safitri. Dia dengan gagah berani melewati pos satpam, berkata bahwa ia akan belajar ke rumanku. Di tangannya tertenteng buku-buku bahasa Indonesia untuk kelas satu yang dia pinjam di perpustakaan sekolah.

“Ma-ta-ha-ti,” ejanya.

“Bukan matahati. Yang terakhir itu huruf apa?” pancingku sambil menunjuk huruf “r”. “Mataha-Ri” teriaknya senang.

“Iya, betul.” Aku tersenyum dan menunjuk kata berikutnya yang harus dibaca. Safitri sering kali tidak membaca dengan teliti hingga akhir, lebih suka menebak.

Setelah latihan membaca, aku akan menyebutkan kata atau kalimat dan memintanya untuk menuliskan kata tersebut. Ini yang masih sangat sulit untuknya. Ia masih bingung memadupadankan vokal yang tepat. Masih lupa huruf, apalagi bila kata tersebut mengandung konsonan ganda. Bekalku hanya sabar dan terus memotivasi. Perlahan, dia pasti bisa.

Yang kukagumi dari Safitri adalah semangatnya. Safitri memang terlambat membaca, tapi dia punya semangat untuk bisa. Ia tidak malu untuk datang ke rumahku. Ia tidak segan duduk di emperan teras ruang guru setiap jam istirahat untuk bisa belajar membaca. Ia juga rajin menemui Bu Puji, pemegang kunci perpustakaan sekolah untuk meminjam buku-buku bahasa Indonesia kelas satu dan kelas dua. Di rumah, dibacanya hampir semua bacaan lalu ditulisnya ulang kalimat-kalimat itu di buku kusamnya. Besok paginya, ia akan datang ke hadapanku membawa hasil tulisannya.

Mengenalnya, melihat semangatnya, adalah kebahagiaan. Hingga itu berubah menjadi kesedihan saat terakhir kali ia berkata, “Kalau Ibu pindah, aku belajar sama siapa Bu?”

Hanya air mata yang menjawab. Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu tidak mengajar di sini lagi. Siapapun gurunya, engkau pasti akan bisa jadi orang hebat dengan semangatmu!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *