PR di Sekolah Inggris? Adakah?

Ganjar Widhiyoga
PhD Candidate in International Relations, Durham University, United Kingdom

 

Orang tua di Indonesia kadang mengeluhkan banyaknya PR untuk anak-anak. Mungkin ada yang kemudian membandingkan dengan negara-negara Eropa yang mungkin dikira tidak mengenal PR. Jangan salah, ada PR di sekolah Inggris! Sebelum membahas bagaimana bentuk PR di sekolah Inggris, saya sampaikan dulu tentang sistem pelajarannya ya.

Kalau di Inggris, anak mulai sekolah sejak usia mereka tiga tahun. Mereka masuk di Nursery (mungkin setara dengan PAUD atau TK Nol Kecil). Tahun berikutnya mereka masuk Reception (TK Nol Besar). Di Reception ini, siswa sudah diajari membaca dengan target lulus sudah mengenal huruf dan bisa membaca kalimat sederhana. Perlu diingat, huruf dalam bahasa Inggris lebih rumit daripada bahasa Indonesia karena nama huruf dan cara baca/phonics-nya beda. Jadi anak belajar dua kali, nama huruf kemudian phonics.

Tapi, salah satu nilai positif sekolah di Inggris adalah cara pengajarannya yang menyenangkan dan ramah terhadap anak. Awal mempelajari phonics, guru mengajarkan dengan gerakan yang akrab untuk anak. Misal, huruf “M” dibaca “em” diajarkan dengan mengusap perut saat kenyang sambil berkata “mmm…”. Huruf “C” dan “K” sama bunyinya “ke”. Cara membedakannya, yang satu disebut “curling ke” sambil tangan membentuk huruf C, satunya disebut sebagai “kicking ke” sambil kaki menendang.

Target sudah mengenal huruf dan dapat membaca tulisan sederhana pun dikejar dengan serius. Anak yang belum sesuai standar capaian membaca atau nampak ogah-ogahan ada pelajaran tambahan. Menariknya, pelajaran tersebut disebut sebagai “club” dan tidak dikesankan sebagai “pelajaran bagi yang bodoh”. Anak-anak yang seharusnya tidak ikut klub pun kadang tergoda ikut karena teman-temannya ada yang ikut.

Nah, lalu bagaimana dengan PR? Adakah PR di sekolah Inggris untuk anak TK? Ada! PR diberikan di tiap akhir pekan untuk siswa Reception (TK Nol Besar). PR-nya macam-macam: ada halaman tracing huruf dan angka, ada lembar phonics untuk berlatih bersama orang tua. Kadang juga ada PR yang meminta anak menulis kembali sebuah cerita dalam satu kalimat, seperti foto ini. Yang paling penting, setiap akhir pekan siswa dipinjami buku cerita dari sekolah untuk dibaca bersama dengan orang tua.

Ternyata, hampir sama ya, di Inggris juga ada kewajiban anak belajar membaca di usia TK, ada PR, ada pelajaran tambahan. Bedanya, pola pengajarannya di sini lebih menyenangkan. Guru pun tidak menekan anak dengan targetnya. Orang tua pun tidak gampang panikan mendaftarkan anak ikut les membaca dsb tapi lebih terlibat dan membersamai anak belajar membaca. Lebih ramah anak.

Jadi, mari kita bangun pola pengajaran membaca di Indonesia yang ramah anak dan membuat anak cinta membaca!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *