Reading Diary

Ganjar Widhiyoga
PhD Candidate in International Relations, Durham University, UK

 

Satu hal yang saya rasakan menarik di sistem pendidikan di Inggris adalah keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak. Selain program Family Learning yang sifatnya suka rela (dan gratis), ada juga program Reading Diary. Anak akan dipinjami buku untuk dibaca di rumah pada akhir pekan. Mereka juga akan membawa semacam buku harian untuk mencatat kemajuan membaca mereka atau untuk orang tua memberi komentar.

Kebiasaan ini dimulai sejak anak duduk di Reception atau TK nol besar. Buku-buku cerita yang dibawa pulang biasanya sangat sederhana. Satu buku terdiri dari sekitar 16-20 halaman. Tiap halaman penuh gambar warna-warni dan dua sampai tiga kalimat saja. Reading diary-nya juga sederhana. Hanya lingkaran tempat orang tua menggambar wajah smile, jika anak suka membaca buku itu, atau sad, jika anak tidak suka atau mengalami kesulitan. Kemudian ada kolom keterangan tempat kami menuliskan apa yang anak suka atau kesulitan apa yang ia dapatkan saat mencoba membaca bukunya.

Masuk ke Year 1, orang tua diminta lebih rinci saat mengisi reading diary. Orang tua diminta mendukung anaknya membaca buku dari sekolah dan menuliskan kesulitan atau pengalaman anak saat membaca. Selain itu, orang tua juga diminta menanyakan isi buku pada anak. Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bertujuan mengetahui pemahaman akan bacaan dan mengembangkan kreativitas anak.

Sederhana namun sangat membantu anak untuk menjaga budaya membaca di akhir pekan. Ini juga membantu mengingatkan orang tua, bahwa orang tua tetap bertanggung jawab pada pendidikan anak. Sudah selayaknya orang tua terlibat dalam proses belajar anak mereka. Mungkin cara yang sama perlu dilaksanakan di Indonesia? Atau, mungkin malah sudah ada sekolah di Indonesia yang memberikan bacaan akhir pekan dan reading diary seperti ini?

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *