Belajar di Museum Sains Manchester

Ganjar Widhiyoga
PhD Candidate in International Relations, Durham University, UK

 

Tahun 2013 silam kami alhamdulillah berkesempatan berkunjung ke Museum of Science and Technology (MOSI) di Manchester agar anak saya belajar dan mulai tertarik pada sains. Kalau mendengar namanya, Museum Sains gitu loh, saya awalnya membayangkan suasana yang suram, kaku dan … membosankan. Ternyata, dugaan saya salah.

MOSI sangat ramai. Cat warna-warni menghiasi dinding. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari foto-foto dengan kostum tradisional, sampai uji coba bagaimana gerakan tubuh bisa menghasilkan suara. Tidak hanya ilmu kontemporer, pengunjung juga belajar sejarah seperti cerita mesin uap yang bertemakan Thomas (yang sangat menarik bagi anak-anak). Konsep ilmiah seperti magnet, cahaya, listrik ditampilkan dalam bentuk permainan yang sangat menyenangkan.

Oh ya, satu hal yang juga menarik, di MOSI ini ada unsur sejarah sosialnya juga. Jadi saat membahas tekstil, ada eksperimen merajut seperti yang dilakukan warga Inggris tempo dulu, lengkap dengan instruktur berkostum seperti kostum little house on the prairie. Asyik sekali, belajar secara integratif antara sains dan sosial.

170220133577
IMG_0739
IMG_0750

Di Indonesia, konsep ini ada di Taman Pintar Yogyakarta. Seandainya ada pusat-pusat sains yang seseru ini, mungkin pelajaran Fisika bukan lagi pelajaran yang angker dan menjemukan.

Kata teman saya yang orang Irlandia, kondisi museum yang “ramah-anak” ini baru satu dekade terakhir. Dulu, sewaktu dia kecil, museum di UK juga terkesan menjemukan. Tapi segalanya berubah seiring pemahaman tentang konsep pendidikan yang berubah. Jadi… Insha Allah pengelolaan museum di Indonesia juga bisa menjadi lebih baik! Kondisi “museum yang asyik” ini dibangun bersama, bukan “mak bedhundhuk” muncul begitu saja tanpa usaha, kok.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *