Kreativitas si Kecil dan Pola Komunikasi Keluarga

Sahabat, kreativitas anak berkembang sesuai pola komunikasi orang tuanya. Coba ingat, pernah menjumpai seorang anak yang begitu bersemangat saat diberikan mainan berupa puzzle atau lego lalu kita membiarkannya? Tapi begitu kita tunjukkan ini-itu cara bermainnya, anak tersebut tampak bosan dan kurang bersemangat bermain?

Nah. Kejadian di atas menunjukkan kalau anak membutuhkan ruang untuk berkreasi tanpa campur tangan orang dewasa.

Jika anak diberi ruang untuk melakukan eksplorasi maka ia akan menjadi kreatif dan mampu mencari solusi alternatif dari suatu masalah. Jika anak diberi instruksi maka ia akan mampu menjalankan instruksi tersebut saja, namun tidak berkembang. Inilah hasil penelitian Alison Gopnik, seorang profesor Psikologi di University of California, Berkeley.

Dalam penelitiannya tersebut, Gopnik menyimpulkan bahwa menggunakan bahasa yang mendorong eksplorasi (kita berpura-pura tidak tahu, mengajak anak untuk bersama-sama mengutak-atik mainan) ternyata membuat anak tertantang dan mengembangkan kreativitasnya. Sementara, gaya bahasa yang instruktif (menjelaskan dengan detail, bersikap mengajari) membuat anak tidak tertantang untuk kreatif.

Bukan hanya kelompok Gopnik yang menemukan hasil demikian. Tim peneliti dari MIT yang dipimpin Laura Schulz juga sampai pada kesimpulan yang sama. Schulz dan timnya melakukan percobaan memberikan satu mainan dengan empat tabung (tabung pertama bisa berbunyi, tabung kedua ada cermin di dalam dsb) pada dua kelompok anak, A dan B.

Di kelompok A, Schulz dan timnya berpura-pura tidak tahu dan mengajak anak untuk “menemukan” fungsi tabung pertama di mainan tersebut. Setelah ditinggal, ternyata anak-anak di kelompok A mampu membunyikan tabung pertama tadi dan melakukan eksplorasi terhadap tiga tabung lainnya. Mereka menemukan cermin di tabung kedua dan hal-hal tersembunyi lain di tabung ketiga dan keempat.

Di kelompok B, Schulz dan timnya memberikan instruksi bagaimana membunyikan tabung pertama. Setelah ditinggal, ternyata anak-anak di kelompok B mampu membunyikan tabung pertama sesuai instruksi namun tidak melakukan eksplorasi terhadap tabung kedua dan seterusnya.

Mencermati dua penelitian di atas, ternyata sangat mudah untuk menumbuhkan kreativitas pada anak-anak! Biarkan saja mereka berkembang dengan imajinasi dan kreativitasnya, maka mereka akan menemukan dunianya!

Nah. Berikut ada tips untuk sahabat untuk mengeksplorasi kreativitas anak saat bermain.

Pertama, gunakan bahasa yang mengajak mereka berpikir, misalkan saja “Bagaimana cara mainnya ya?”, atau “Kalau begini, apa jadinya?”

Kedua, jangan selalu berikan instruksi kaku pada mereka (“Harus A, setelah itu B, setelah itu C). Coba ubah instruksi menjadi kalimat tanya: “Bagaimana kalau A, kemudian B, lalu C?”

Ketiga, Beri kesempatan bagi mereka untuk bereksplorasi dan menemukan sendiri hal-hal menarik di sekitar mereka. Tentu, kita harus memastikan lingkungan dan alat yang digunakan tidak berbahaya bagi anak-anak.

Selamat mengeksplorasi kecerdasan anak, Sahabat!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *